Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 05 Juni 2013

Pengertian Akhlak


BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang Masalah           
      Pembahasan Ilmu Akhlak adalah membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Dari pengertian akhlak diatas, kami melatar belakangi mengapa kami mengkaji tentang akhlak, karena akhlak sangat erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari yang akan memberikan pedoman kepada setiap orang dalam berprilaku. Fenomena yang kita alami sekarang ini, kemerosotan akhlak dikalangan remaja sudah tidak bisa terbendung, dikalangan dewasa makin meraja rela. Faktor yang menyebabkan hal itu adalah, kemajuan IPTEK yang tidak diimbangi dengan selektif dalam memilih mana yang pantas diserap dan tidak. Maka dari itu, kami sebagai mahasiswa tidak ingin bangsa ini terus dalam kemerosotan dekadensi moral yang semakin terpuruk, jalan yang terbaik adalah kita belajar sejak dini mempelajari ilmu agama secara kaffah karena didalam agama sudah tertera rambu-rambu Allah untuk manusia. Sejak dinilah kita mulai untuk memperbaiki akhlak-akhlak yang bobrok tadi dengan mencontoh uswah nabi Muhammad Saw. Semoga makalah yang kami susun ini dapat memberikan manfaat amiin.         
2.      Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, kami simpulkan latar belakang itu dalam sebuah pertanyaan.
1.       Mengapa kita perlu mempelajari ilmu akhlak?

3.      Tujuan
1.      Tujuannya adalah agar kita dapat mencotoh akhlaknya Allah dan RasullNya.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ilmu Akhlak
1.      Definisi Akhlak Menurut Linguistik (kebahasaan)
Definisi akhlak dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa arab, yaitu isim masdar (bentuk infinitif) dari kata ahklaqa, yukhliqu, ikhlaqan, sesuai dengan timbangan (wajan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu, if’alan yang berarti Al-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, thabi’at, watak dasar), al-‘adadt (kebiasan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).[1]
2.      Definisi Akhlak Menurut Terminologik (peristilahan)
Definisi akhlak menurut terminonologik dari pendapat Ibnu Shadaruddin Asy Syarwan adalah ilmu tentang perbuatan-perbuatan mulia serta cara memiliki perbuatan tersebut agar menghiasi diri, dan ilmu tentang perbuatan-perbuatan buruk serta cara menjauhinya agar diri bersih darinya. Rasulullah Saw bersabada.:[2]
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. “  
3.      Definisi Akhlak Menurut Bahasa Arab
Definisi akhlak dalam bahasa Arab merupakan jama’ dari khuluq yang mengandung beberapa arti, diantaranya:
a.       Tabiat, yaitu sifat dalam diri yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki dan tanpa diupayakan.
b.      Adat, yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan, yakni berdasarkan keinginannya
c.       Watak, cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat. Kata akhlak juga bias berarti kesopanan dan agama.
4.      Definisi Akhlak Menurut Para Ulama dan Filosof
Definisi akhlak menurut para ulama dan filosof dibagi menjadi tiga:
a.       Ilmu kebaikan dan keburukan; Sebagian ulama mendefinisikan ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang kebaikan, keburukan, yang pantas dan yang tidak pantas. Melalui ilmu ini bisa dibedakan perbuatan tersebut baik atau jelek.
b.      Ilmu manusia; Maksudnya adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia.
c.       Ilmu tentang kewajiban; Maksudnya akhlak itu menunjukkan manusia kepada apa-apa yang harus ia tinggalkan. Yakni segala sesuatu yang perlu ia lakukan dan segala sesuatu yang perlu ia jauhi agar selamat dari siksa Rabbnya.
B.     Pembagian Ilmu Akhlak
Para ulama akhlak, baik dulu maupun sekarang membagi ilmu akhlak menjadi dua bagian yakni aspek teoritis dan aspek pragmatis.
1.      Aspek Teorotis
Aspek ini memfokuskan bahasan pada hakikat kebaikan dan keburukan, menciptakan kaidah-kaidah akhlak dan ukuran-ukuran perbuatan atau tindakan. Kemudian membahas tentang hakikat dan bentuk perasaan manusia, memberikan batasan tujuan akhir hidup manusia dan menjelaskan harapan yang selalu didengungkannya berupa kebahagiaan berikut semua permasalahannya.[3]


2.      Aspek Praktis
Aspek ini mengawasi praktek aspek teoritis dalam kehidupan nyata secara pribadi maupun masyarakat. Tujuannya agar dapat memutuskan apakah suatu perbuatan sesuai dengan kaidah-kaidah atau tidak? Sesuai dengan makna hak dan kewajiban atau tidak? Atau sesuai dengan ukuran akhlak atau tidak? Semua ini tentunya sudah dikaitkan dengan kepentingan pribadi dan masyarakat.     
C.    Objek Ilmu Akhlak
Objek ilmu akhlak adalah tindakan-tindakan manusia, yakni yang muncul dari pikiran dan pertimbangan. Dengan kata lain objeknya adalah sejumlah tindakan yang menggambarkan kepada kita akhlak terpuji dan memberi batasan tujuan-tujuan mulianya. Ada pula yang berpendapat, objek ilmu ini adalah tentang jenis-jenis tabiat yang baik, yang mesti kita miliki, seperti ikhlas, jujur, menjaga kehormatan dan lain-lain.[4] Sophin Hower mengatakan, Manusia dilahirkan sebagai orang-orang baik dan orang-orang jahat.
Firman Allah Swt.: 
$ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ
Dan jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan. ” (QS. Asy Syams [91]: 8)  
D.    Faktor Pembentuk Akhlak
Ada beberapa faktor pembentuk akhlak, yang terpenting diantaranya:
1.      Adat atau kebiasaan. Akhlak itu dibentuk melalui praktek, kebiasaan, banyak mengulangi perbuatan dan terus-menerus pada perbuatan itu.seseorang misalnya belum disebut pemberani jika beraninya hanya muncul sewaktu-waktu. Platon mengatakan,bahwa yang baik itu belum bisa dicapai jika mengerjakannya sekali saja.[5]
2.      Sifat keturunan. Yaitu berpindahnya sifat-sifat orang tua kepada anak cucu. Sifat keturunan ini bukan yang tampak saja, tetapi juga yang tidak tampak seperti kecerdasan, keberanian, kedermawanan dan lain-lain.
3.      Lingkungan. Yang dimaksud adalah lingkungan masyarakat yang mengitari kehidupan seseorang dari rumah, lembaga pendidikan, hingga tempat bekerja. Demikian pula hal-hal yang berupa kebudayaan dan nasihat-nasihat sekitarnya. Cukuplah menjadi dalil atas pengaruh lingkungan terhadap kehidupan dan akhlak manusia, yaitu sabda Rasul Saw.:
Setiap bayi yang dilahirkan adalah fitrah (suci), kemudian ibu bapaknya yang    meyahudikan, menasranikan, memajusikannya. ”
E.     Fase Terjadinya Akhlak
Fase terjadinya akhlak diantaranya:
1.      Ide, yaitu kata hati atas suatu kecenderungan.Kecenderungan, yaitu tertujunya seseorang kepada salah satu ide yang tergambar dalam hati dan ingin mencapai tujuan dari ide tersebut.
2.      Harapan, yaitu menangnya salah satu kecenderungan atas semua kecenderungan dalam hati seseorang.
3.      Keinginan, yaitu sifat diri yang telah membulatkan tekad terhadap salah satu harapan diatas untuk dapat dibuktikan.
4.      Adat, keinginan yang berulang-ulang dan lahir dari keadaan bagian dalam. Adat inilah yang disebut akhlak.[6] 



F.     Istilah-istilah Akhlak dalam Al- Quran dan Sunnah
Istilah-istilah tersebut diantaranya:
1.      Akhlak Adil
Akhlak adil adalah sifat yang mendasar, karena adil itu merupakan perintah Allah
* ¨bÎ) ©!$# ããBù'tƒ ÉAôyèø9$$Î/ Ç`»|¡ômM}$#ur Ç!$tGƒÎ)ur ÏŒ 4n1öà)ø9$# 4sS÷Ztƒur Ç`tã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍x6YßJø9$#ur ÄÓøöt7ø9$#ur 4 öNä3ÝàÏètƒ öNà6¯=yès9 šcr㍩.xs? ÇÒÉÈ
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat. ” (QS. An Nahl [61]: 90)
Adil itu banyak bentuknya, antara lain:
a.       Adil kepada Allah; Tidak menyekutukan-Nya dengan apapun dalam ibadah dan sifat-sifat-Nya, menaati dan tidak maksiat kepada-Nya, mengingat dan tidak melupakan-Nya, dan bersyukur serta tidak ingkar kepada-Nya.
b.      Adil dalam menghukum setiap orang; Memberikan setiap hak kepada pemiliknya.
c.       Adil kepada para istri dan anak-anak; Tidak condong kepada salah seorang mereka atau kepada sebagian anak.
d.      Adil dalam berkata; Tidak bersaksi palsu dan tidak berkata dusta atau kotor.
e.       Adil dalam itikad; Tidak meyakini selain yang benar dan tidak menyanjung sesuatu diluar fakta yang sebenarnya.[7]



2.      Akhlak Ihsan
Ihsan (berbuat baik) adalah ikhlas dalam beramal dan melaksanakan amal itu sebaik-baiknya tanpa diiringi riya atau sum’ah, (sum’ah: ingin kedengaran orang lain dalam beramal.[8]
Seorang muslim tidak memandang ihsan sebagaiakhlak terpuji saja, tetapi juga bagian dari akidahnya dan factor penting dalam islam. Sebab tingkatan agama itu ada tiga; Iman, Islam, dan Ihsan. Sabada Rasulullah Saw.:
Beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia melihatmu. “
3.      Akhlak Kasih Sayang
Kasih sayang merupakan akhlak terpuji yang melembutkan akhlak tercela, berusaha menghilangkannya dan menyesali kesalahan-kesalahannya. Kasih saying itu merupakan sifat Allah SWT dan salah satu asma-ul husna-Nya. Allah SWT itu adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sebab kasih saying-Nya meliputi semua makhluk dan semua kerajaan-Nya.
Kasih sayang adalah kelembutan dalam hati yang dihubungkan dengan rasa sakit ketika terasa oleh indra. Atau kasih sayang adalah mendampingi teman diwaktu suka dan duka. Allah Swt berfirman.:
¢OèO tb%x. z`ÏB tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur ÏpuHxqöuKø9$$Î/ ÇÊÐÈ y7Í´¯»s9'ré& Ü=»ptõ¾r& ÏpuZyJøpRùQ$# ÇÊÑÈ
Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih saying. Mereka orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu adalah golongan kanan. “  (QS. Al Balad [90]: 17,18)
           Barangsiapa yang membiasakan untuk saling mengasihi maka dia dicintai Allah dan Rasul-Nya. Islam berpesan agar berkasih sayang secara menyeluruh, yakni kasih sayang yang meliputi manusia, kehidupan didarat dan kehidupan di udara. Orang yang pertama kali harus disayangi adalah orangtua, kemudian keluarga dan anak-anak, setelah itu orang lain secara umum dan secara khusus yakni yang terdesak kebutuhan seperti anak yatim, fakir miskin, orang sakit, pembantu dan hewan.[9]
4.      Akhlak Malu
Kata malu dalam bahasa Arab adalah al haya yang berarti hidup. Hati yang hidup tentu orangnya pemalu karena ia menjadi pencegah setiap keburukan yang merusak hati itu sendiri. Aisyah ra. Berkata, “ Akhlak yang mulia itu sepuluh; berkata jujur, lisan yang jujur, menunaikan amanah, silturrahmi, memberi upah buruh, memberi kebajikan, tidak menjelekkan tetangga, tidak menjelekkan teman, menghormati tamu. “ Dan pangkal dari semua itu adalah malu.
Malu juga merupakan akhlak yang paling menonjol dan yang paling berperan dalam menjaga diri dari segala keburukan. Para ulama mengatakan, “ Sebenarnya malu itu akhlak yang mengekang perbuatan buruk dan yang menjauhkan dari merampas hak orang lain. Malu iti bagian dari iman, sedang iman merupakan akidah seorang muslim dan pilar kuatnya hidup. Adapun faidah malu dan iman, bahwa keduanya dapat mengajak kebaikan dan menjauhkan dari keburukan. Iman mendorong orang melaksanakan berbagai ketaatan dan menjauhi maksiat, sedang malu menghalangi orang dari kurang bersyukur atas nikmatNya dan dari mengabaikan hak orang lain, sebagaimana orang pemalu itu sulit untuk berkata atau berbuat buruk karena takut dicela atau dimarahi orang. Rasulullah Saw bersabda.:
Malu itu tak mendatangkan kecuali kebaikan. “
Malu tidak sekadar berarti menutupi aurat, tidak mengurangi kewajiban, tidak mengingkari kebaikan, tidak berkata jelek kepada orang lain dan tidak memperlihatkan mereka kepada yang tak disukainya, tetapi juga malu kepada Sang Pencipta. Karena itu jangan berkurang dalam ketaatan, dan dalam bersyukur atas segala nikmatNya. Rasul bersabada.:[10]
Allah itu lebih berhak disikapi malu daripada manusia. “
Malu itu mempunyai bidang-bidang lain, diantaranya:
a.       Malu dalam berbicara. Artinya hendaklah seorang muslim membersihakan lisannya dari bicara kotor atau menceritakan aib saudaranya.
b.      Malu itu bukan takut atau ketakutan, tetapi merupakan bentuk keberanian yang sangat tinggi. Ada perbedaan antara malu dan segan. Segan itu terjadi pada kebaikan dan keburukan, terkadang menyeret pada keadaan buruk. Sedangkan malu tak terjadi kecuali pada aturan menurut Syariah. Malu itu bukan pada kebatilan, dan tak ada tempat malu pada manusia jika sedang sesat sebagimana tak ada tempat baginya ketika seseorang membela kebenaran.
5.      Akhlak Menjaga Kehormatan
Pembinaan ini dimaksudkan guna mengatur urusan jasmani dan rohani, dan menempatkannya secara terhormat. Yakni member etika-etika yang berkaitan dengan pakaian, tempat tinggal dan pangan tanpa cenderung kepada kerahiban atau materialis. Sebagian filsafat memandang bahwa ruh itu mesti lepas dari kaitan-kaitan jasad. Sebagian lagi memberi kebebasan penuh menikmati berbagai kelezatan tanpa mengindahkan aturan. Rasul SAW telah menggabungkan anatara menjaga kehormatan dan kecukupan dalam berbagai hadits diantaranya:
Barang siapa yang menjaga kehormatan ia akan dijaga kehormatannya oleh Allah, barang siapa yang merasa cukup ia akan dicukupkan Allah dan barangsiapa yang sabar ia akan diberi kesabaran oleh Allah. “       
Islam itu menyukai keindahan dan penampilan bagus, tetapi orang malah mengeluh dengan islam. Sebaliknya islam membenci berlebihan dalam segala hal, maka Islam mengharamkan wadah-wadah dari perak dan emas atau tikar dan baju dari sutera sebab bisa membuat orang sombong. Dengan demikian sederhana merupakan akhlak terpuji.[11]
6.      Akhlak Jujur
Jujur yaitu mengatakan sesuatu apa adanya. Jujur lawannya dusta. Ada pula yang berpendapat, “ jujur itu tengah-tengah antara menyembunyikan dan terus terang. “
Jujur meupakan akhlak terpuji yang paling penting serta memerlukan kesungguhan untuk teguh kepadanya. Jatuhnya manusia adalah hilangnya sifat jujur dan larut dalam dusta serta prasangka yang menjauhkan mereka dari jalan lurus atau dari kebenaran yang mesti dipatuhi. Karena itu berpegang teguhlah pada kejujuran. Seorang muslim tidak memandang kejujuran sebagai akhlk terpuji saja, tetapi juga sebagai penyempurnaan iman dan islamnya. Ada ulama mengatakan, “ Jujur itu pilar agama, pilar etika dan pangkal malu. Tiga unsure ini tidak akan tercapai kecuali dengan jujur. “ Ajaran pertama yang disampaikan kepada umat islam adalah berkata jujur, bekerja sungguh-sungguh dan bicara teratur. Adapun dusta, ingkar janji, kepalsuan dan berkata dibuat-buat adalah tanda munafik atau dusta.
Tiadak ada akhlak yang lebih dibenci oleh Rasulullah Saw daripada dusta. “
Jujur mempunyai beberapa bentuk diantaranya:
a.       Jujur pada diri sendiri
b.      Jujur dalam berkata
c.       Jujur dalam berjanji
d.      Jujur dalam bahasa
e.        
7.      Akhlak Amanah
Amanah kebalikannya khianat. Menurut Syariat adalah menyimpan rahasia, menyampaikan hasil musyawarah kepada anggota secara murni dan menyampaikan secara jujur apa-apa yang dititipkan orang lain. Amanah merupakan akahlak sangat pokok dimana Rasulullah Saw sendiri sudah bersifat amanah dari sejak kecil hingga masa kerasulan, sehingga orang-orang musyrikpun menjuluki beliau sebagai Ash Shadiqul Amin, yakni yang jujur lagi terpercaya atau yang amanah.[12]
Jadi amanah itu artinya bisa berkaitan dengan akhlak-akhlak lain seperti jujur, sabar, berani, menjaga kehormatan dan memenuhi janji. Sedangkan pada umumnya orang mengartikan amanah hanya sebatas menjaga titipan, padahal dalam islam arti amanah ini sangat luas dan sangat berat. Amanah itu merupakan agama, ketaatan, kewajiban, dan batas-batas aturan yang jika dilaksanakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat mendapat siksa. Amanah terbagi menjadi beberapa bidang, diantaranya, amanah akal, amanah badan, amanah pancaindra, amanah pekerjaan, amanah harta dan anak, amanah terhadap hak-hak majelis, hubungan suami istri.
8.      Akhlak Santun
Santun merupakan salah satu akhlak terpuji, pembuka segala kebaikan dan penutup segala keburukan. Santun juga diartikan sabar, sedang sabar bagian dari iman. Kemudian santun juga sering mematikan api permusuhan dan menggagalkan tindak kekejaman. Disisi lain sifat santun merupakan kunci sukses para Nabi dan Rasul dalam menyampaikan. Misalnya Nuh as. Yang mendapat perlakuan durhaka serta curang dari kaumnya, tetapi tak melakukan tindakan kecuali berdoa agar Allah memberi ampun dan kesabaran para pengikutnya.
Rasulullah Saw sesekali suka marah tetapi tak pernah melewati batas-batas kewibawaan beliau. Dalam riwayat hidupnya, beliau itu tak pernah marah karena hawa nafsu, selain jika larangan Allah dilanggar maka beliau marah karena Allah Swt. Karena itu cukuplah bagi kita mengikuti perintah Allah agar pemaaf. Imam Ghozali menyebutkan beberapa cara mengobati marah melalui ilmu dan amal antara lain:
a.       Hendaklah takut kepada Allah dan siksaNya.
b.      Hendaklah merenungi nash-nash tentang keutamaan menahan marah, memaafkan dan kuat terhadap ujian.
c.       Hendaklah berlindung dari syetan yang terkutuk karena marah itu dari syetan.
9.      Akhlak Sabar
Di antara akhlak tepuji yang harus dimiliki setiap muslim adalah sabar atau tahan dengan berbagai ujian Allah serta mencari ridha-Nya. Sabar adalah kondisi dalam diri atas sesuatu yang tak diinginkan dengan rela dan berserah.[13]
Seorang muslim hendaklah bersabar atas sesuatu yang kurang menyenangkannya seperi ibadah dan taat kepada Allah terus-menerus. Ia juga mesti sabar untuk tidak maksiat kepadaNya, sehingga tidak membiarkan diri coba-coba mendekati dan melakukannya sema kuat untuk itu. Sabar itu merupakan akhlak terpuji yang diperlukan seorang muslim dalam menjalankan agama dan dunianya. Bentuk sabar dapat dijelaskan menjadi tiga:
a.       Sabar dalam menghadapi musibah. Muslim yang baik akan bersabar menyikapi musibah dan belas kasih (simpati) kepada orang lain.
b.      Sabar untuk tidak maksiat. Meninggalkan maksiat iti lebih utama dari  sabar atas uijan atau musibah.
c.       Sabar untuk tetap menjalankan perintah Allah. Senantiasa istikomah dalam menjalani hidup dengan ibadah, selalu optimis dalam menatap masa depan.


10.  Akhlak Tawadhu
Tawadhu’ (rendah hati) merupakan salah satu akhlak terpujiatau sifat yang luhur. Seorang muslim mesti bertawadhu’ karena itu merupakan ruh iman yang hidup dan perasaan lembut yang memperkokoh persaudaraan diantara umat. Karena itu orang muslim mesti bertawadhu’ agar ditinggikan kedudukannya dan jangan sombong agar tidak turun kedudukannya. Sudah merupakan sunnatullah bahwa Allah mengangkat orang-orang yang bertawadhu’ kepadaNya, lalu merendahkan orang-orang yang sombong. Sabda Rasulullah Saw.:[14]
Shodakoh itu tak mengurangi harta, Allah tak menambah hamba yang memaafkan selain kemuliaan, dan tak seorangpun bertawadhu’ karena Allah kecuali ditinggikan olehNya. “  
Maka cukuplah Rasul Saw sebagai teladan akhlak terpuji, beliau orang yang baik tabiatnya, baik pergaulannya, berseri-seri, murah senyum, belas kasihan dan berhati lembut. Beliau juga suka pergi kepasar kemudian membeli barang dipikul sendiri, membetulkan sandal, menambal bajunya, memeras susu kambing keluarganya, mengikat unta, makan bersama pembantu, berlaku baik kepadanya, tidak memberi pekerjaan berat, duduk bersama orang-orang miskin dan berjalan bersama janda-janda tua serta anak yatim.
11.  Akhlak Menahan Marah
Menahan marah dipandang salah satu akhlak terpuji yang dicintai Allah. Marah itu merupakan emosi manusia yang menyertainya karena naik pada darah. Marah juga merupakan salah satu penopang struktur kemanusiaan dan salah satu kebutuhannya.
Menahan marah merupakan tahapan yang didahului oleh pemberian maaf dari yang marah. Karena itu nash al Qur’an agar marah yang terpendam dalam hati orang yang bertakwa itu berakhir. Caranya dengan memaafkan yang bersalah, toleransi, lalu pergi.
Jadi, Allah mengajak manusia agar memaafkan kesalahan diantara mereka.  Sehingga menurutNya orang-orang yang dermawan dengan harta diwaktu mudah dan sulit adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, begitu pula orang-orang yang dermawan dengan maaf setelah marah termasuk orang-orang yang berbuat kebajikan. Islam telah member nasihat orang yang mempunyai hak dengan cara member anjuran yang lembut, toleran, dan mennhapus kesalahan-kesalahan masa lalunya dengan menerima taubat. Islam juga menghapus kedengkian dan membunuh benih-benihnya dari sejak manusia lahir. Karena muslim harus berpikiran luas dan beremosi mulia, kemudian melihat segala sesuatu dari segi kepentingan umum bukan dari kepentingan pribadi.[15]
12.  Akhlak Pemaaf
Pemaaf juga merupakan salah satu akhlak terpuji yang dianjurkan oleh Islam dan oleh Allah Swt, kepada Rasul Saw dan orang-orang mukmin.
 Ëxxÿô¹$$sù yxøÿ¢Á9$# Ÿ@ŠÏJpgø:$# ÇÑÎÈ
Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang yang baik. “ (QS. Al hijr [15]: 85)
Jadi, maaf itu berkaitan dengan menahan marah dan bebuat kebajikan. Tidak ada yang lebih menentramkan diri dan menenangkan pandangan daripada hati yang damai serta jauh dari dengki. Jika melihat nikmat mengalir kepada seseorang, ia rela bahwa karunia Allah sedang tertuju kepadanya. Kemudian jika melihat musibah jatuh pada seseorang, ia bersimpati sambil mendoakan agar segera lepas dari musibahnya serta mendapat ampunan Allah karenanya.
Islam memandang hati menjadi sesuatu yang sangat pokok. Hati yang hitam akan merasuk amal soleh, menodai keindahannya, dan mengotori kebeningannya. Sedangkan hati yang bercahaya, Allah akan memberkati sedikit rezeki yang diterima orang itu, yakni setiap kebajikan cepat dating kepadanya. Pada dasarnya memaafkan itu adalah bersabar jika seseorang diganggu orang lain. Dari itu ia tidak membalas gangguan tersebut selain dengan kebaikan dan tidak marah karena hawa nafsunya selama ia berada dijalan yang benar serta mencari ridho Allah Swt. Teladan tinggi dalam hal ini adalah para Rasul as. Orang-orang salih, sebab hampir tak ada diantara mereka yang tak pernah diganggu kaumnnya.
13.  Akhlak Memenuhi Janji
Memenuhi janji merupakan akhlak terpuji atau budi pekerti yang mulia. Memenuhi janji adalah melaksanakan apa yng menjadi keharusannya baik berupa perkataan atau tulisan. Maka, jika seorang muslim sudah memutuskan suatu kesepakatan, ia wajib menghormatinya. Janji itu wajib dipenuhi sebagaimana sumpah wajib dipenuhi dalam kebajikan.[16]
a.      Jenis-jenis Janji
1). Janji antara Allah dan manusia
Ibadah kepada Allah Swt merupakan janji, berbuat baik dengan ucapan atau perbuatan merupakan janji dan mendirikan salat mengeluarkan zakat juga merupakan janji
2). Janji antarmanusia
Seperti janji pernikahan, janji mendidik anak, janji memenuhi hak tetangga, hak saudara dan lain-lain.
Dalam sejarah Islam sudah tak heran lagi jika umat Islam memenuhi janji dengan saudara mereka atau orang lain.
G.    Tokoh-tokoh Islam yang Mengemukakan tentang Akhlak                             
Baik kata akhlaq atau khuluq kedua-duanya dijumpai pemakaianya baik dalam al-Quran, maupun al-Hadist, sebagai berikut:berarti menutupi
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ
Artinya Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS.Al-Qalam, 68: 4)

Bahwasannya aku diutus (Allah) untuk  menyempurnakan keluhuran budi pekerti . (HR.Ahmad).

Menurut Ibn-Miskawaih (w.421 H/ 1030 M) yang selanjutnya dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu misalnya secara singkat mengatakan, bahwa akhlak adalah :[17]

Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Sementara itu Imam Al-Ghazali (1059-1111 M) yang selanjutnya dikenal sebagai Hujjatul Islam (pembela islam) karena kepiawannya dalam membela islam dari berbagai paham yang dianggap menyesatkan dengan agak lebih luas dari Ibnu Miskawaih mengatakan akhlak adalah:

Sifat  yang tertanam didalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.                          Dalam mu’jam al-wasith, Ibrahim Anis mengatakan bahwa akhlak adalah:

Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
Selanjutnya didalam kitab Dairatul Ma’arif secara singkat akhlaq diartikan:

Sifat-sifat manusia yang terdidik.
Dari definisi-definisi akhlaq diatas secara substansial tampak saling melengkapi kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlaq, yaitu:
1.      Pertama, perbuatan akhak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya.
2.      Kedua, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.
3.      Ketiga, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa ada paksaan dari luar.
4.      Keempat, perbuatn akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karna bersandiwara.
5.      Kelima, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karna ikhlas semata-mata karna Allah.
Sumber-sumbernya:
Dalam bahasa Arab kita dapat membaca buku khuluq Al-muslim (akhlaq orang muslim), yang ditulis Muhammad Al-Ghazali, kitab al-Akhlaq (ilmu akhlaq) yang ditulis oleh Ahmad Amin, Tahzib al-Akhlaq (pendidikan akhlaq) yang ditulis oleh ibnu Miskawaih, Ihya ‘Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama) yang ditulis Imam al-Ghazali, Falsafah Akhlaq yang ditulis oleh Murthada Mutahhari, Ilmu Tasawuf yang ditulis oleh Mustafa Zahri.[18]
Pokok-pokok ilmu akhlak atau ruang lingkup ilmu akhlak tidak lain membahas tentang perbuatan manusia. Perbutan tersebut selanjutnya ditentukan kriterianya apakah baik atau buruk.              
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
     Akhlak merupakan pembentukan karakater manusia baik atau buruk kepribadiannya yang yang tertanam kuat dalam jiwa dan untuk merealisasikannya tanpa paksaan.

B.     Saran
     Dibutuhakan referensi buku Akhlak yang lain dan asumsi-asumsi yang dapat memperkaya khasanah tentang pengertian akhlak.   




DAFTAR PUSTAKA
Abudin, Nata, Akhlak Tassawuf, PT.Raja Gravindo Persada, Jakarta, Cet. 9, 2010
Ahmad, Amin, etika (ilmu akhlak), Bulan Bintang, Jakarta, Cet. III, 1983
As, Asmaran, Pengantar Studi Akhlak, Rajawali Pers, Cet. I, 1992
Iman Abdul Mukmin Sa’aduddin, Al-Akhlak fil Islami, PT. Rosdakarya, Bandung, Cet-1., 2006
                       


[1] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, PT. Gravindo Persada, Jakarta, Cet ke-9., 2010, hal 1
     
[2] Iman Abdul Mukmin Sa’aduddin, Al-Akhlak fil Islami, PT. Rosdakarya, Bandung, Cet-1., 2006, hal 15
[3] Ibid, hlm. 32-33
[4] Ibid, hlm. 34- 35  
[5] Ibid, hlm. 40
[6] Ibid, hlm. 151
[7] Ibid, hlm. 153
[8] Ibid, hlm. 159  
[9] Ibid, hlm. 168
[10] Ibid, hlm. 169
[11] Ibid, hm. 182
[12] Ibid, hlm. 191-192  
[13] Ibid, hlm. 203
[14] Ibid, hlm. 211-213
[15] Ibid, hlm. 219  
[16] Ibid, hlm. 228-231
[17] Abudin Nata, Op. Cit., hlm 7
[18] Ibid, hlm. 8
P

0 komentar:

Posting Komentar