Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 05 Juni 2013

Budaya Organisasi

BAB II
PEMBAHASAN

A.     Definisi                                                                                                                               
            Selain menjadi sebuah konsep yang penting, budaya organisasi, sebagai perspektif untuk  memahami perilaku individu dan kelompok dalam satu organisasi, memiliki keterbatasan. Pertama, budaya bukan satu-satunya cara untuk memandang organisasi. Budaya organisasi belum tentu didefinisikan sama oleh dua ahli teori  atau peneliti.
1.      Definisi Budaya
a.       Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
1)      Pikiran;akal budi
2)      Adat istiadat
3)      Suatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju)
4)      Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.
b.      Beberapa definisi  budaya dalam buku Prilku dan Manajemen Organisasi adalah:
1)      Simbol,bahasa,ideologi ,ritual,dan mitos.
2)      Naskah organisasi, yang diambil dari naskah pribadi pendiri organisasi atau pemimpin yang dominan.
3)      Merupakan sebuah produk,sebuah sejarah; didasarkan pada simbol; dan merupakan suatu abstraksi dari perilaku  dan produk prilaku.[1]

2.      Definisi Organisasi
a.      Menurut Oliver Sheldon
Organisasi adalah proses penggabungan pekerjaan yang para individu atau kelompok-kelompok harus melakukantugas-tugas, sedemikian rupa, memberikan saluran terbaik untuk pemakaian yang efisien, sistematis, positif, dan terorganisasi dari usaha yang tersedia.[2]
b.      Menurut Schein
Organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi melalui hierarki otoritas dan tanggung jawab.[3]
c.       Menurut Kohler
Organisasi adalah sistem hubungan yang terstruktur yang mengkoordinasi usaha suatu kelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu.[4]

3.      Definisi Budaya organisasi
Dalam buku Prilaku dan Manajemen Organsasi karya John. M. Ivancevich,diterangkan bahwa Budaya organisasi adalah apa yang dipersepsikan karyawan dan cara persepsi itu menciptakan suatu pola keyakinan, nilai,dan ekspektasi.budaya organisasi belum tentu didefinikan sama oleh dua ahli teori atau peneliti. Berikut pendapat para pakar tengtang budaya organisasi:
a.      Menurut Edgar H. Schein.
Schein menyatakan budaya organisasi sebagai:
“.... a pattern of shared basic assumption that was learned by a group as it solved its problems of external adaptation and internal integration, that has worked well enough to be considered valid and, therefore, to be taught to new member as the correct way to perceive, think, and feel in relation to those problem.”[5]
Schein menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan sebuah pola asumsi-asumsi dasar yang bersifat valid dan bekerja di dalam organisasi. Serangkaian asumsi dasar dapat dipelajari oleh para anggota organisasi. Budaya organisasi mampu bertindak sebagai pemberi solusi atas masalah organisasi, berperan selaku adaptor terhadap faktor-faktor yang berkembang di luar organisasi, serta dalam melakukan integrasi internalnya dari para anggotanya. 
 Definisi Schein menunjukkan bahwa budaya melibatkan asumsi, adaptasi,persepsi dan pembelajaan. Dia kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa suatu budaya organisasi  memiliki  tiga lapisan. Yaitu:[6]
1)      Lapisan I mencakup artifak dan ciptaan yang tampak nyata tapi sering kali tidak dapat diinterpretasikan. Sebuah laporan tahunan, sebuah newsletter, dinding pembagi antar pekerja, dan dekorasi merupakan contoh dari artifak dan ciptaan.
2)      Lapisan II terdapat nilai atau berbagai hal yang penting bagi orang. Nilai merupakan kesadaraan, hasrat afektif, atau keinginan.
3)      Lapisan III merupakan asumsi  dasar yang diciptakan orang untuk memandu perilaku mereka. Termasuk dalam lapisan ini adalah asumsi yang mengatakan kepada individu bagaimana berpersepsi, berpikir, dan berperasaan  mengenai pekerjaan, tujuan  kinerja, hubungan manusia dan kinerja rekan kerja.
b.      Menurut Walter R. Freytag
Walter R. Freytag mendefinisikan budaya organisasi sebagai:
“....adentist and shareof conscious and unconsciousassumptions and values that blinds organizational members together and prescribes appropriate patters of behavior”.[7]
Freytag menitikberatkan pada asumsi dan nilai-nilai yang disadari atau tidak disadari yang mampu mengikat kepaduan suatu organisasi. Asumsi dan nilai tersebut menentukan pola prilaku para anggota di dalam organisasi.
c.       Menurut Larissa A. Grunig
Larissa A. Grunig mendefinisikan budaya organisasi sebagai:
... the sum total of shared values, symbols, meaning, beliefs, assumption, and expectations that organize and integrate a group of people who work together.”[8]
Definisi Grunig et.al. ini mirip dengan yang telah disampaikan Freytag sebelumnya, yaitu bahwa budaya organisasi adalah totalitas nilai, simbol, makna, asumsi, dan harapan yang mampu mengorganisasikan suatu kelompok orang yang bekerja secara bersama-sama.
d.      Menurut Matt Alvesson
Definisi yang lebih rinci mengenai budaya organisasi diberikan oleh Matt Alvesson, bahwa saat bicara mengenai budaya organisasi, maka:
“ ... seems to mean talking about the importance for people of symbolism –  of rituals, myths, stories and legends and about the interpretation of events, ideas, and experiences tha are influenced and shaped by the groups within they live. I will also, however, take organizational culture to include values and assumptions about social reality ...”[9]
Bagi Alvesson, pembicaraan mengenai budaya organisasi sulit dilepaskan dari pembicaraan mengenai pentingnya simbolisme bagi manusia, serta peristiwa, gagasan, dan pengalaman yang dialami serta dibentuk oleh kelompok di mana seseorang beraktivitas. Dalam analogi dengan kajian sosiologi, anggota organisasi berposisi sebagai individu sementara organisasi berposisi sebagai masyarakat. Organisasi membentuk anggota organisasi agar menyesuaikan diri terhadap budaya yang berkembang di dalam organisasi sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam organisasi tersebut. 

B.     Tipologi Budaya Organisasi
1.      Tipologi budaya organisasi Versi Amitai Etzioni
a.      Tipe organisasi
Tipologi budaya organisasi dapat diturunkan dari tipologi organisasi. Amitai Etzioni membagi tipe organisasi dengan membuat tabulasi silang antara  jenis kekuasaan dengan jenis keterlibatan individu di dalam organisasi.
1)       Jenis kekuasaan dibagi menjadi tiga, yaitu:
a)      Koersif
Jenis Kekuasaan Koersif adalah kuasa dalam organisasi yang muncul dari penghukuman fisik atau ancaman penghukuman fisik
b)      Remuneratif
Remuneratif muncul dari kendali atas sumber daya dan reward material.
c)      Normatif
Normatif muncul dari distribusi dan manajemen reward serta penalti simbolik.
2)      Keterlibatan
Adalah kecenderungan evaluatif dan emosional dari para aktor terhadap suatu tindakan. Keterlibatan dibagi menjadi:
a)      Alienatif
Adalah keterlibatan yang sangat tidak disetujui.
b)      Kalkulatif
 Adalah keterlibatan yang lemah baik itu setuju atau tidak setuju.
c)      Moral
 Adalah keterlibatan yang sangat disetujui.
Etzioni yakin bahwa cenderung akan ada perimbangan antara keterlibatan dan power dalam suatu organisasi sehingga pola budaya suatu organisasi adalah persilangan antara kedua konsep tersebut. Menurut Etzioni, tipe kombinasi yang paling sering muncul dalam realitas organisasi adalah Koersif-Alienatif, Remuneratif-Kalkulatif, dan Normatif-Moral. Etzioni melanjutkan bahwa ketiga domain tersebut merupakan tipe organisasi yang paling efektif.
b.      Tipologi Budaya Organisasi
Dari hasil tabulasi silangnya, Etzioni kemudian mengajukan tipologi organisasinya yaitu : [10]
1)      Organisasi Koersif
Adalah organisasi di mana para anggotanya terperangkap dalam alasan fisik dan ekonomi sehingga harus mematuhi apapun peraturan yang ditimpakan oleh otoritas.
2)      Organisasi Utilitarian
Adalah organisasi di mana para anggota dimungkinkan untuk bekerja yang adil untuk hasil yang adil pula serta adanya kecenderungan untuk mematuhi beberapa aturan yang esensial di samping para pekerja menyusun norma dan aturan yang melindungi diri mereka sendiri.
3)      Organisasi Normatif
adalah organisasi di mana para individunya memberi kontribusi pada komitmen karena menganggap organisasi adalah sama dengan tujuan diri mereka sendiri. 
Tipologi Etzioni memperlihatkan perbedaan antara organisasi bisnis yang cenderung Utilitarian, organisasi Koersif seperti penjara dan rumah sakit jiwa, ataupun organisasi Normatif seperti sekolah, rumah sakit dan lembaga-lembaga nirlaba. 
2.      Tipologi Budaya Organisasi Versi Rob Goffee and Gareth Jones.
Rob Goffee dan Gareth Jones yang membagi tipologi budaya organisasi ke dalam 4 kuadran yang disasarkan pada dua konsep yaitu Solidaritas dan Sosiabilitas. Solidaritas adalah kecenderungan untuk saling dukung sementara Sosiabilitas adalah kecenderungan untuk berhubungan satu dengan lainnya. yaitu :[11]
a.      Networked
tipe budaya organisasi dengan Sosiabilitas dan Solidaritas tinggi. 
b.      Fragmented
Adalah tipe budaya organisasi yang rendah baik dimensi Sosiabilitas maupun Solidaritasnya.
c.       Mercenary
Adalah tipe budaya organisasi dengan Solidaritas tinggi, sementara Sosiabilitas rendah.
d.      Komunal.
Adalah tipe budaya organisasi dengan Sosiabilitas tinggi, sementara Solidaritas rendah.

3.      Tipologi Budaya Organisasi Versi Kim S. Cameron and Robert E. Quinn.
Cameron dan Quinn berbeda dengan Goffee dan  Jones karena menyertakan kalkulasi masalah eksternal organisasi. Tipologi ini dibangun lewat kerangka nilai-nilai yang berkembang di dalam budaya suatu organisasi dan sebab itu disebut pula sebagai “Competing Value Model.” Cameron dan Jones telah mengembangkan alat ukur khusus untuk mengukur tipologi di atas dan terkenal dengan sebutan OCAI (Organizational Culture Assessment Instrument). 
Alat ukur OCAI tersebut terdiri dari 24 item pertanyaan dengan 6 indikator. Keenam indikator tersebut adalah:[12]
  1. Karakteristik-karakteristik dominan organisasi;
  2. Kepemimpinan organisasi;
  3. Manajemen pegawai;
  4. Perekat organisasi;
  5. Titik tekan strategis; dan
  6. Kriteria keberhasilan organisasi.
Berdasarkan kombinasi atas keenam indikator organisasi tersebut, Cameron dan Quinn membuat empat tipologi budaya organisasinya.[13]
a.      Klan
Budaya organisasi yang merupakan tempat paling ramah dan bersahabat untuk bekerja. Para anggota organisasi saling berbagi kehidupan antar sesamanya. Ia mirip dengan keluarga di luar rumah. Pemimpin, atau kepala organisasi, dipandang selaku mentor dan mungkin juga figur orang tua. Organisasi terbangun atas loyalitas dan tradisi. Komitmen para anggota terhadap organisasi cukup tinggi. Di samping itu, organisasi menekankan pada keuntungan jangka panjang dari pembangunan sumber daya manusia dan sangat memperhatikan kohesi organisasi dan moral. Kesuksesan didefinisikan dalam pengertian sensitivitas pada penikmat jasa dan perhatian pada orang lain.  Organisasi Klan menempatkan kerja tim, keterlibatan anggota, dan konsensus pada prioritas tertinggi.
b.      Hirarki
Adalah organisasi yang bersifat formal dan terstruktur. Prosedur-prosedur adalah pengatur yang utama seputar apa yang orang harus lakukan. Pemimpin bangga jika diri mereka mampu menjadi organisator dan koordinator yang baik, dengan kecenderungan pada efisiensi. Bagaimana organisasi berjalan lancar adalah sesuatu yang kritis bagi Hirarki. Aturan-aturan serta kebijakan-kebijakan formal yang membuat ikatan dalam organisasi. Fokus jangka panjang adalah pada stabilitas dan kinerja yang efisien dan kelancaran operasi. Kesuksesan didefinisikan dalam istilah penjadualan yang lancar, biaya rendah, dan pengantaran yang teratur. Manajemen pekerja concern pada keamanan pekerjaan dan prediktabilitas.
c.       Adokrasi
Merupakan tempat bekerja yang dinamis, kewirausahawanan, dan kreatif. Para anggota bersikap waspada dan bersedia mengambil resiko. Pemimpin dianggap selaku inovator dan pengambil resiko. Organisasi direkatkan oleh komitmen atas inovasi dan eksperimentasi. Penekanan Adokrasi adalah membawa organisasi menjadi perintis atau pionir. Penekanan jangka panjang organisasi adalah pada perkembangan dan pencarian sumber-sumber daya baru. Kesuksesan diartikan sebagai pencapaian keunikan jasa dan produk-produk baru. Sebab itu, selalu menjadi pemimpin dalam produksi atau pelayanan adalah nilai terpenting bagi organisasi yang memiliki budaya Adokrasi.  Organisasi juga menghendaki inisiatif dan kebebasan individual.
d.       Market-Oriented.
Disebut organisasi yang berorientasi hasil, di mana concern utamanya adalah bagaimana pekerjaan dituntaskan. Para anggota cenderung kompetitif dan berorientasi tujuan. Pemimpin adalah pengarah yang ketat, produser, sekaligus kompetitor. Mereka zakelijk dan penuntut. Reputasi dan kesuksesan adalah concern-nya. Fokusnya pada  jangka panjang adalah pemenuhan tujuan serta tindakan kompetitif yang terukur.[14]

            Mengenai tipologi budaya organisasi Cameron dan Quinn. Klan adalah organisasi yang berfokus pada dimensi internal serta bersifat fleksibel. Hirarki adalah organisasi yang berfokus pada dimensi internal tetapi stabil. Adokrasi lebih berfokus pada dimensi eksternal dan bercorak fleksibel. Sementara Market berfokus pada dimensi eksternal dan bercorak stabil. 



C.     Manfaat Budaya Organisasi
Budaya organisasi mempunyai manfaat, antara lain:
1.      Budaya mempunyai suatu peran menempatkan tapal batas; artinya budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan jangkauannya.
2.      Budaya membawa satu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
3.      Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada suatu yang lebih luas dari pada kepentingan-kepentingan dari individual seseorang.
4.      Budaya itu meningkatkan kemantapan sistem social. Budaya merupakan perekat social yang membantu mempersatuakan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para anggota.
5.       Akhirnya budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memadu dan membentuk sikap serta perilaku anggaotanya.
Selain memiliki manfaat, kadang suatu budaya yang telah mengakar kuat menimbulkan efek yang negatife antara lain :
1.      Penghalang terhadap suatu perubahan

Budaya terasa sebagai suatu beban, bilamana nilai-nilai yang ada tidak lagi cocok dengan nilai-nilai yang akan meningkatkan keefektifan suatu organisasi itu. Ini paling mungkin terjadi bila lingkungan organisasi kita dinamis, bila bangunan itu mengalami perubahan yang cepat, budaya yang telah berakar dari organisasi itu mungkin tidak lagi tepat.


2.      Penghalang terhadap keanekaragaman

Budaya yang kuat menyebabkan tekanan yang cukup besar pada para anggota untuk menyesuaikan diri (conform). Mereka membatasi rentang nilai dan tatanan yang dapat diterima. Padahal organisasi-organisasi memperlihatkan individu yang beraneka ragam, karena kekuatan alternative yang dibawa mereka ke tempat kerja. Oleh karena itu, budaya yang kuat dapat merupakan beban (liabilitas) bila budaya itu dengan efektif menyingkirkan berbagai kekuatan unik tersebut.

3.      Penghalang terhadap afiliasi

Budaya yang kuat akan menjadi karakteristik suatu organisasi. Bila tidak terdapat kecocokan (kompatibilitas) antar organisasi suatu dengan yang lainnya, maka biasanya sualit untuk mengadakan kerja sama.

BAB III
KESIMPULAN

Budaya organisasi adalah apa yang dipersepsikan karyawan dan cara persepsi itu menciptakan suatu pola keyakinan, nilai dan ekspektasi. Ada beberapa versi tipologi budaya organisasi budaya, antara lain versi Amitai Etzioni, yang terdiri dari Organisasi Koersif, Organisasi Utilitarian, Organisasi Normatif. Versi Rob Goffee and Gareth Jones yang terdiri dari Networked, Fragmented, Mercenary, dan  Komunal. Versi Kim S. Cameron and Robert E. Quinn terdiri dari Klan, Hirarki, Adokrasi dan Market-Oriented.
Budaya organisasi mempunyai manfaat, antara lain: Budaya mempunyai  peran menempatkan tapal batas; artinya budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan jangkauannya, Budaya membawa satu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi, Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada suatu yang lebih luas dari pada kepentingan-kepentingan dari individual seseorang, Budaya itu meningkatkan kemantapan sistem social. Budaya merupakan perekat social yang membantu mempersatuakan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para anggota, Akhirnya budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memadu dan membentuk sikap serta perilaku anggaotanya. Selain itu, kadang budaya organisasi memiliki efek negative, yaitu penghalang suatu perubahan, penghalang keanekaragaman dan penghalang afiliasi.













DAFTAR PUSTAKA

Amitai Etzioni, Modern Organizations : Studies in the Postmodern World , London : SAGE Publications Ltd., 1999.

Cameron, Kim S, Diagnosing and Changing Organizational Culture : Based on the Competing Values Framework, Revised Edition , San Fransisco : Joh Wiley & Sons, Inc., 2006.

Freytag, Walter R,  Organizational Culture” dalam Kevin R. Murphy and Frank E. Saal, eds., Psychology in Organizations: Integrating Science and Practice , New Jersey : Lawrence Erlbaum Associates, Inc., 1990.

Haberberg, Adrian, Strategic Management : Theory and Application , New York : Oxford University Press, 2008.
Muhammad, Arni,  Komunikasi Organisasi, Bumi Aksara, Jakarta,2005, cet.7

M.Ivancevich, John , Prilaku dan Manajemen Organisasi, Erlangga:Jakarta,2006.

Setabasri01.blogspot.com/2010/12/budaya-organisasi.html

Schein, Edgar.H, Organizational Culture and Leadership, 3rd Edition (San Fransisco : John Wiley & Sons, Inc., 2004.

Sutarto, Dasar-dasar Organisasi, Yogyakarta, 2002.






[1] John M.Ivancevich , Prilaku dan Manajemen Organisasi, Erlangga, jakarta,2006, hlm. 44
[2] Sutarto, Dasar-dasar Organisasi, Yogyakarta, 2002, hlm.22
[3] Dr. Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, Bumi Aksara, Jakarta, cet.ke-7, 2005, hlm.23
[4] Ibid.,hlm. 23
[5] Edgar H. Schein, Organizational Culture and Leadership, San Fransisco : John Wiley & Sons, Inc., 2004, hlm.17.
[6] Op.Cit., John M.Ivancevich
[7] Walter R. Freytag, “Organizational Culture” dalam Kevin R. Murphy and Frank E. Saal, eds., Psychology in Organizations: Integrating Science and Practice , New Jersey : Lawrence Erlbaum Associates, Inc., 1990, hlm.181
[8] Larissa A. Grunig, James E. Grunig, David M. Dozier, Excellent Public Relations and Effective Organizations: A Study of Communication Management in Three Countries , New Jersey : Lawrence Erlbaum Associates, Inc., Publishers, 2002,  hlm. 282.
[9] Mats Alvesson, Understanding Organizational Culture , London : SAGE Publications Ltd., 2002, hlm. 3
[10] Amitai Etzioni, Modern Organizations : Studies in the Postmodern World , London : SAGE Publications Ltd., 1999, hlm. 43
[11] Adrian Haberberg and Alison Rieple, Strategic Management : Theory and Application, New York : Oxford University Press, 2008,  hlm. 345.
[12] Kim S. Cameron and Robert E. Quinn, Diagnosing and Changing Organizational Culture : Based on the Competing Values Framework, Revised Edition, San Fransisco : Joh Wiley & Sons, Inc., 2006,  hlm. 26
[13]Ibid.,hlm.46
[14] Setabasri01.blogspot.com/2010/12/budaya-organisasi.html

0 komentar:

Posting Komentar